Tahapan-Tahapan Hidupku
Pada saat itu tepatnya umurku menginjak 5 tahun 6 bulan. Sampai sekarang aku masih ingat, saat itu di malam hari aku pergi ke pasar malam bersama ayahku, disana banyak sekali permainan yang menyenangkan. Pasar malam itu lokasinya sangat berdekatan dengan sekolah dasar, sejak aku melihat sekolah daasr itu aku ingin sekali cepat-cepat bersekolah disana, karena aku ingin segera memakai pakaian putih merah dengan tas baru dan sepatu. Sepertinya begitu menyenangkan bisa sekolah. beberapa bulan kemudian aku pun didaftarkan sekolah disan, raanya begitu menyenangkan, sangat menyenangkan. hari pertama sekolah, aku senang sekali karena aku bisa bersekolah diumurku yang belum genap 6 tahun, tapi saat itu aku sedih juga karena aku ekolah tidak diantar oleh orangtuaku, karena aku punya adik yang baru lahir jadi ibuku harus mengurus adiku yang baru lahir ini. Tapi rasa sedihku cepat sekali terlupakan karena aku disekolah baru ini bertemu banyak teman-teman baru yang menyenangkan. waktupun begitu cepat belalu, 6 tahun sudah aku menjalani sekolah dasar, tetapi aku merasa tidak puas karena saat sekolah dasar aku hanya seorang anak yang pemalu, dan pendiam ketika saat belajar tetapi, diluar itu aku anak yang cengingisan, berani, dan tidak penakut. Saat sekola dasar aku selalu main kesana kemari tanpa sepepengetahhuan orang tuaku. Aku saat sekolah dasar tidak begitu banyak mengukir prestasi, aku disekolah dasar hanya menjadi anak yang rata-rata saja, kelas 1 ranking 8, kelas 2 ranking 11, kelas 3 ranking 12, kelas 4 ranking 9, kelas 5 ranking 4, dan kelas 6 ranking 3. Menurut orangtuaku, aku ini sebenernya pintar namun butuh proses yang lama. Ya, mungkin jika dilihat dari ranking-ranking ku dulu di sekolah dasar. Enam tahun sudah aku sekolah di sekolah dasar, rasanya begitu cepat sekali. selain sekolah dasar, aku dulu sekolah madrasah juga, jadi sekolah madrasah itu sekolah untuk belajar mengenai agama. Di sekolah dasar aku cukup pintar, cukup saja,hehe. pada saat itu aku langsung naik ke kelas 2 karena aku siswa pindahan dari madrasah lain, dan di madrasah itu aku menempati ranking yang bertahap, pertama kelas 2 ranking 5, kelas 3 ranking 4, kelas 4 ranking 3, dan terakhir kelas 5 ranking 2. Setelah lulus sekolah dasar aku langsung melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP). Aku masuk di SMP favorit ku sejak SD yaitu SMPN 5 karena sekolah tersebut katanya hanya orang-orang pintar yang bisa masuk. Di sana (SMP) saya bertemu dengan orang-orang yang luarbiasa, mereka semua aktif dikelas ataupun diluar kelas, cerdas, tapi sayangnya mereka agak sombong jika bertemu dengan orang yang sederhana seperti aku. aku di SMP tidak berteman dengan mereka yang memiliki latar belakang keluarga kaya, karena aku merasa minder. Oleh karena itu aku berteman dengan orang yang sama-sama pendiam dan sederhana. Saat itu aku berteman dengan seseorang yang memiliki latarbelakang keluarga yang dibawah aku, ayaknya bekerja penarik becak, tapi siswa itu luarbiasa pintarnya, dia selalu menduduki ranking pertama dikelas dari kelas 7 sampai kelas 9. Aku merasa senang karena aku bisa berteman dengan dia dan aku juga menjadi terbawa pintar juga. di SMP aku kelas 7 ranking 8, kelas 8 ranking 5, dan kelas 9 ranking 3. ya, ranking ku selalu saja seperti itu, bertahap, tidak pernah langsung jadi yang terbaik. hehehe :D. Di SMP aku tidak terlalu aktif juga, aku hanya mengikuti ektrakurikuler PMR, Teather, dan RMN. Di PMR aku pernah jadi CO/Ketua divisi yaitu CO pertolongan pertama, di Theater dan RMN aku hanya menjadi anggota saja. Di SMP aku pernah mengitu lomba juga tapi tidak pernah jadi juara, hahaha, entah kenapa. Tiga tahun sudah aku menjadi sekolah di SMP, aku sangat senang sekali karena aku menjadi alumni dari SMP yang bagus dan favorit. Setelah itu aku melanjutkan sekolahku di SMAN yaitu sekolah impian para pelajar di asal temaptku. SMAN ini sekolah satu-satunya yang berstandar internasional, sekolah yang selalu mengadakan pertukaran pelajar ke luar negeri, dan prestasi-prestasi lainnya. SMAN ini sekolah terbaik di Kota asalku. setiap orang mendambakan sekolah itu. Aku senag sekali bisa sekolah disana. awalnya aku tidak percara diri untuk mendaftar ke sekolah tersebut karena hanya orang-orang cerdaslah yang bisa bersekolah disana, selain itu aku hanya orang berkecukupan, banyak orang bilang jika ingin sekolah disana harus menyiapkan uang 6 juta untuk uang masuk, sedangkan gaji orantuaku sebulan hanya 2juta saja. Rasanya ,mustahil aku bisa sekolah disana. Tapi karena keinginanku yang sudah bulat aku mendaftarkan diri kesana tanpa sepengetahuan teman-temanku karena mereka pasti mengejek dan menyuruhku agar jangan terlalu percaya diri bisa sekolah disana. Setiap bertemu dengan teman SMP mereka bertanya, kamu daftar kemana, aku jawwab SMA lain bukan SMAN karena mereka menggap rendah aku. Setelah keterima di SMAN orang-orang heran, ada yang berpikir aku menyogok tapi itu tidak masuk akal juga karena aku berasal dari keluarga yang sederhana, ada yang mengucapkan tapi dengan senyman mengejek. Hmm yasudahlah, aku hanya fokus untuk sekolah disana dan berusaha sebaik mungkin. Di SMAN ini aku tidak terlalu pintar juga dikelas, aku hanya jadi orang biasa juga dikelas, aku selalu merasa bukan siapa-siapa jika bertemu dengan orang yang luar biasa, awalnya memotivasi tapi lama-lama aku merasa aku itu bukan siapa-siapa. Di SMAN ini aku aktif di keorganisasian PASKIBRA, disana aku banyak belajar bersosialisasi, aku senang sekali karen aorang-orang dapat mengenalku melalui Paskibra ini. di Paskibra ini aku pernah mendapatkan kejuaraan yaitu juara umum LKBB se Jawa Barat dan senangnya luar biasa, karena sekalinya mendapat kejuaraan langsung menjadi juara umum. Tak lama, 3 tahun sudah aku bersekolah di SMAN rasanya sedih sekali karena harus meninggalkan masa-masa SMA yang begitu menyenangkan. Tetapi sebelum memndaptkan ijazzah aku terkena skandal, karena aku tidak membayar iuran sekolah selama 9 bulan dan belum membayar uang bangunan saat pertama masuk sekolah. Iuran sekolahku per bulan Rp. 250.000 dan uangan bangunan yang belum aku bayar Rp. 700.000. Silakan dijumlahkan dan berapa hasilnya. luar biasa besarnya kan? Aku tidak bisa membayar karena pekerjaan orang tuaku mengalami penurunan alhaasil pendapatannya menurun dan aku tidak bisa membayar iuran sebanyak itu. Tetapi anehnya, sekolahku tidak pernah menagih uang itu, aku enjoy saja sekolah padahal iuran belum dibayar. Saat orang-orang mengambbil ijazah, aku hanya bisa melihat antrian saja tanpa mengikuti antrian tersebut, aku hanya melihat dan berpikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang atau alternatif lain agar aku bisa mengambil ijazah itu. Karena menunggu hanya sia-sia saja, akhirnya aku pulang, dan aku berbicara dengan orang tua ku bahwa ijazahku belum bisa diambil karena belum melunasi iuran, orangtua aku pun sedih mendengar hal itu, tapi aku biasa saja, aku berpikir dan berpikir bagaimana caranya bisa mengambil ijazah itu tanpa harus membayar. keesokan harinya aku pun pergi ke sekolah, tanpa membawa uang sepeserpun. Entah apa yang akan aku lakukan disana, aku hanya merasa harus pergi saja dan disana pasti ada jalan keluar. Setiba di sekolah aku berjalan menuju ruang tata usaha yaitu tempat pembayaran iuran. Aku menemui kepala Staff dan kami un berbincang-bincang, kepala staff bialng orang tua aku harus ke sekolah untuk mengurus hal ini, karena ini tanggung jawab orang tua bukan saya. Akhirnya saya pun pulang kembali. Sampai dirumah aku langsung bilang pada orangtuaku. Keesokan harinya orangtuaku ke sekolah dan setelah darisana orangtua sesampai dirumah sedikit marah adaku karena tidak bialng kalau iuran sekolah sebanyak itu, aku memang salah aku mengakui itu. Ibu dan ayahku pun menangis karena tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, tetapi aku berusaha tegar karena semua ini pasti sudah direncanakan olehNya sebaik-sebaiknya. Karena aku tidak tega melihat mereka menangis, akupun memutuskan untuk pergi ke sekolah entah mengapa aku ingi n pergi kesana. Sesampai disekolah aku langsung ke ruang Tata usaha, disana aku melihat orang masih beramai-ramai mengambil ijazah, dan juga adik kelas yang sedang membayar uang pendafrtaran, aku disana menunggu kepala staaf, akhirnya bertemu dan disana pula dengan dikelilingi banyak siswa kami berbincang-bingcang. Aku disana berbicara sebaik-baiknya agar aku bisa mengambil ijazah, kemudian bapak kepala Tata usaha itu tiba-tiba menawarkan pembayaran 50% dari semua yang harus dibayarkan, aku pun senang, tapi apakah 50% bisa? aku pun berpikir sejenak dan tiba-tiba aku meminta keringanan lagi, bagaimana jika hanya 20% pak, keluarga saya saat ini benar-benar tidak bisa membayar sebanyak itu, kemudian si bapak terdiam dan menjawab "yasudah, buat surat pemohonan dan juga nilai rapotmu, katanya kamu aktif kan dan juga pernah ranking 2 dikelas, nanti dilkampirkan nilai rapotmu". mendengar jawaban itu aku begitu senang sekali, aku pun menganggukan kepala dengan yakin dan aku pamit pulang. Sesampai dirumah aku menceritakan kabar gembira ini, ayah dan ibu pun senang. keesokan harinya, aku pun membuat surat permohonan dan membayarkan uang 20% dari jumlah iuran ku. akhirnya aku pun mendapatkan ijazah.
Cerita selanjutnya, bsook insyaAllah
see you next time :)
Pada saat itu tepatnya umurku menginjak 5 tahun 6 bulan. Sampai sekarang aku masih ingat, saat itu di malam hari aku pergi ke pasar malam bersama ayahku, disana banyak sekali permainan yang menyenangkan. Pasar malam itu lokasinya sangat berdekatan dengan sekolah dasar, sejak aku melihat sekolah daasr itu aku ingin sekali cepat-cepat bersekolah disana, karena aku ingin segera memakai pakaian putih merah dengan tas baru dan sepatu. Sepertinya begitu menyenangkan bisa sekolah. beberapa bulan kemudian aku pun didaftarkan sekolah disan, raanya begitu menyenangkan, sangat menyenangkan. hari pertama sekolah, aku senang sekali karena aku bisa bersekolah diumurku yang belum genap 6 tahun, tapi saat itu aku sedih juga karena aku ekolah tidak diantar oleh orangtuaku, karena aku punya adik yang baru lahir jadi ibuku harus mengurus adiku yang baru lahir ini. Tapi rasa sedihku cepat sekali terlupakan karena aku disekolah baru ini bertemu banyak teman-teman baru yang menyenangkan. waktupun begitu cepat belalu, 6 tahun sudah aku menjalani sekolah dasar, tetapi aku merasa tidak puas karena saat sekolah dasar aku hanya seorang anak yang pemalu, dan pendiam ketika saat belajar tetapi, diluar itu aku anak yang cengingisan, berani, dan tidak penakut. Saat sekola dasar aku selalu main kesana kemari tanpa sepepengetahhuan orang tuaku. Aku saat sekolah dasar tidak begitu banyak mengukir prestasi, aku disekolah dasar hanya menjadi anak yang rata-rata saja, kelas 1 ranking 8, kelas 2 ranking 11, kelas 3 ranking 12, kelas 4 ranking 9, kelas 5 ranking 4, dan kelas 6 ranking 3. Menurut orangtuaku, aku ini sebenernya pintar namun butuh proses yang lama. Ya, mungkin jika dilihat dari ranking-ranking ku dulu di sekolah dasar. Enam tahun sudah aku sekolah di sekolah dasar, rasanya begitu cepat sekali. selain sekolah dasar, aku dulu sekolah madrasah juga, jadi sekolah madrasah itu sekolah untuk belajar mengenai agama. Di sekolah dasar aku cukup pintar, cukup saja,hehe. pada saat itu aku langsung naik ke kelas 2 karena aku siswa pindahan dari madrasah lain, dan di madrasah itu aku menempati ranking yang bertahap, pertama kelas 2 ranking 5, kelas 3 ranking 4, kelas 4 ranking 3, dan terakhir kelas 5 ranking 2. Setelah lulus sekolah dasar aku langsung melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP). Aku masuk di SMP favorit ku sejak SD yaitu SMPN 5 karena sekolah tersebut katanya hanya orang-orang pintar yang bisa masuk. Di sana (SMP) saya bertemu dengan orang-orang yang luarbiasa, mereka semua aktif dikelas ataupun diluar kelas, cerdas, tapi sayangnya mereka agak sombong jika bertemu dengan orang yang sederhana seperti aku. aku di SMP tidak berteman dengan mereka yang memiliki latar belakang keluarga kaya, karena aku merasa minder. Oleh karena itu aku berteman dengan orang yang sama-sama pendiam dan sederhana. Saat itu aku berteman dengan seseorang yang memiliki latarbelakang keluarga yang dibawah aku, ayaknya bekerja penarik becak, tapi siswa itu luarbiasa pintarnya, dia selalu menduduki ranking pertama dikelas dari kelas 7 sampai kelas 9. Aku merasa senang karena aku bisa berteman dengan dia dan aku juga menjadi terbawa pintar juga. di SMP aku kelas 7 ranking 8, kelas 8 ranking 5, dan kelas 9 ranking 3. ya, ranking ku selalu saja seperti itu, bertahap, tidak pernah langsung jadi yang terbaik. hehehe :D. Di SMP aku tidak terlalu aktif juga, aku hanya mengikuti ektrakurikuler PMR, Teather, dan RMN. Di PMR aku pernah jadi CO/Ketua divisi yaitu CO pertolongan pertama, di Theater dan RMN aku hanya menjadi anggota saja. Di SMP aku pernah mengitu lomba juga tapi tidak pernah jadi juara, hahaha, entah kenapa. Tiga tahun sudah aku menjadi sekolah di SMP, aku sangat senang sekali karena aku menjadi alumni dari SMP yang bagus dan favorit. Setelah itu aku melanjutkan sekolahku di SMAN yaitu sekolah impian para pelajar di asal temaptku. SMAN ini sekolah satu-satunya yang berstandar internasional, sekolah yang selalu mengadakan pertukaran pelajar ke luar negeri, dan prestasi-prestasi lainnya. SMAN ini sekolah terbaik di Kota asalku. setiap orang mendambakan sekolah itu. Aku senag sekali bisa sekolah disana. awalnya aku tidak percara diri untuk mendaftar ke sekolah tersebut karena hanya orang-orang cerdaslah yang bisa bersekolah disana, selain itu aku hanya orang berkecukupan, banyak orang bilang jika ingin sekolah disana harus menyiapkan uang 6 juta untuk uang masuk, sedangkan gaji orantuaku sebulan hanya 2juta saja. Rasanya ,mustahil aku bisa sekolah disana. Tapi karena keinginanku yang sudah bulat aku mendaftarkan diri kesana tanpa sepengetahuan teman-temanku karena mereka pasti mengejek dan menyuruhku agar jangan terlalu percaya diri bisa sekolah disana. Setiap bertemu dengan teman SMP mereka bertanya, kamu daftar kemana, aku jawwab SMA lain bukan SMAN karena mereka menggap rendah aku. Setelah keterima di SMAN orang-orang heran, ada yang berpikir aku menyogok tapi itu tidak masuk akal juga karena aku berasal dari keluarga yang sederhana, ada yang mengucapkan tapi dengan senyman mengejek. Hmm yasudahlah, aku hanya fokus untuk sekolah disana dan berusaha sebaik mungkin. Di SMAN ini aku tidak terlalu pintar juga dikelas, aku hanya jadi orang biasa juga dikelas, aku selalu merasa bukan siapa-siapa jika bertemu dengan orang yang luar biasa, awalnya memotivasi tapi lama-lama aku merasa aku itu bukan siapa-siapa. Di SMAN ini aku aktif di keorganisasian PASKIBRA, disana aku banyak belajar bersosialisasi, aku senang sekali karen aorang-orang dapat mengenalku melalui Paskibra ini. di Paskibra ini aku pernah mendapatkan kejuaraan yaitu juara umum LKBB se Jawa Barat dan senangnya luar biasa, karena sekalinya mendapat kejuaraan langsung menjadi juara umum. Tak lama, 3 tahun sudah aku bersekolah di SMAN rasanya sedih sekali karena harus meninggalkan masa-masa SMA yang begitu menyenangkan. Tetapi sebelum memndaptkan ijazzah aku terkena skandal, karena aku tidak membayar iuran sekolah selama 9 bulan dan belum membayar uang bangunan saat pertama masuk sekolah. Iuran sekolahku per bulan Rp. 250.000 dan uangan bangunan yang belum aku bayar Rp. 700.000. Silakan dijumlahkan dan berapa hasilnya. luar biasa besarnya kan? Aku tidak bisa membayar karena pekerjaan orang tuaku mengalami penurunan alhaasil pendapatannya menurun dan aku tidak bisa membayar iuran sebanyak itu. Tetapi anehnya, sekolahku tidak pernah menagih uang itu, aku enjoy saja sekolah padahal iuran belum dibayar. Saat orang-orang mengambbil ijazah, aku hanya bisa melihat antrian saja tanpa mengikuti antrian tersebut, aku hanya melihat dan berpikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang atau alternatif lain agar aku bisa mengambil ijazah itu. Karena menunggu hanya sia-sia saja, akhirnya aku pulang, dan aku berbicara dengan orang tua ku bahwa ijazahku belum bisa diambil karena belum melunasi iuran, orangtua aku pun sedih mendengar hal itu, tapi aku biasa saja, aku berpikir dan berpikir bagaimana caranya bisa mengambil ijazah itu tanpa harus membayar. keesokan harinya aku pun pergi ke sekolah, tanpa membawa uang sepeserpun. Entah apa yang akan aku lakukan disana, aku hanya merasa harus pergi saja dan disana pasti ada jalan keluar. Setiba di sekolah aku berjalan menuju ruang tata usaha yaitu tempat pembayaran iuran. Aku menemui kepala Staff dan kami un berbincang-bincang, kepala staff bialng orang tua aku harus ke sekolah untuk mengurus hal ini, karena ini tanggung jawab orang tua bukan saya. Akhirnya saya pun pulang kembali. Sampai dirumah aku langsung bilang pada orangtuaku. Keesokan harinya orangtuaku ke sekolah dan setelah darisana orangtua sesampai dirumah sedikit marah adaku karena tidak bialng kalau iuran sekolah sebanyak itu, aku memang salah aku mengakui itu. Ibu dan ayahku pun menangis karena tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, tetapi aku berusaha tegar karena semua ini pasti sudah direncanakan olehNya sebaik-sebaiknya. Karena aku tidak tega melihat mereka menangis, akupun memutuskan untuk pergi ke sekolah entah mengapa aku ingi n pergi kesana. Sesampai disekolah aku langsung ke ruang Tata usaha, disana aku melihat orang masih beramai-ramai mengambil ijazah, dan juga adik kelas yang sedang membayar uang pendafrtaran, aku disana menunggu kepala staaf, akhirnya bertemu dan disana pula dengan dikelilingi banyak siswa kami berbincang-bingcang. Aku disana berbicara sebaik-baiknya agar aku bisa mengambil ijazah, kemudian bapak kepala Tata usaha itu tiba-tiba menawarkan pembayaran 50% dari semua yang harus dibayarkan, aku pun senang, tapi apakah 50% bisa? aku pun berpikir sejenak dan tiba-tiba aku meminta keringanan lagi, bagaimana jika hanya 20% pak, keluarga saya saat ini benar-benar tidak bisa membayar sebanyak itu, kemudian si bapak terdiam dan menjawab "yasudah, buat surat pemohonan dan juga nilai rapotmu, katanya kamu aktif kan dan juga pernah ranking 2 dikelas, nanti dilkampirkan nilai rapotmu". mendengar jawaban itu aku begitu senang sekali, aku pun menganggukan kepala dengan yakin dan aku pamit pulang. Sesampai dirumah aku menceritakan kabar gembira ini, ayah dan ibu pun senang. keesokan harinya, aku pun membuat surat permohonan dan membayarkan uang 20% dari jumlah iuran ku. akhirnya aku pun mendapatkan ijazah.
Cerita selanjutnya, bsook insyaAllah
see you next time :)
Komentar
Posting Komentar